IPK lo sekarang berapa emang?
Pertanyaan itu terasa cukup menyenangkan untuk dijawab saat IPK-mu berada di kisaran angka 3 koma tapi terasa sedikit menyesakkan saat IPK milikmu berada di rentang 1 atau 2 koma. Jika Harry menyebut Voldemort sebagai kau-tahu-siapa, maka terkadang IPK juga sebegitu horornya sampai layak disebut kau-tahu-apa saja di waktu-waktu muram tertentu.
Seperti yang kita ketahui bersama duhai rekan-rekan mahasiswa, IPK alias Indeks Prestasi Kumulatif adalah mekanisme penilaian keseluruhan kegiatan akademik selama masa perkuliahan. Angkanya didapatkan saat kamu menambahkan semua nilai IP dan membaginya dengan jumlah semester.
…
Setelah periode UAS berakhir, dalam hitungan minggu mahasiswa di belahan dunia manapun pastilah dilanda perasaan gundah gulana untuk menanti datangnya nilai mata kuliah selama semester terkait. Kadang nilai turun sesuai dengan ekspektasi, namun kadang juga meleset sangat jauh. Pengaruh langsungnya bisa dilihat pada lembar transkrip. Nilai sekece abjad mutu A bisa mempercantik transkrip dan sebaliknya nilai berupa abjad C, D atau E langsung membuat IPK ngesot turun terseok-seok.
Secara mati-matian, IPK selalu diupayakan untuk bertahan di tingkat stabilitasnya selama masih berstatus mahasiswa. Kombinasi sifat rajin, cerdas dan disertai keberuntungan yang baik dapat membuat IPK berada di atas angin dengan status cum laude-nya sepanjang semester. Di sisi lain, kombinasi yang kurang baik seringkali terjadi saat kamu sudah mencoba rajin, cerdas dan bertawakkal atas upaya namun dosen-dosen berperangai misterius memberimu nilai random tanpa transparansi komponen nilai. Dafuq moment.
Jadi, apa arti IPK bagimu?
Bagi saya pribadi, IPK adalah target kepuasan pribadi. Menjadi target kepuasan pribadi saat IPK mencapai angka yang memang diharapkan. Tak tinggi-tinggi amat, hanya menargetkan kisaran 3.3-3.4 saja untuk bisa diraih dan dipertahankan. Tak jarang saya menemui mahasiswa ber-IPK super saiya 3.9 atau 4 yang begitu misuh-misuh saat mendapatkan nilai di bawah A sehingga menurunkan IPK mereka barang 0.001 atau 0.01. Another dafuq moment.
Ada juga kisah tentang segelintir mahasiswa di jurusan saya yang bercita-cita untuk mulai merajut kariernya di perusahaan-perusahaan konsultasi manajemen ternama. Tak banyak yang mau, mungkin karena salah satu syaratnya cukup membuat mahasiswa seperti saya bergidik: IPK minimal 3.5. Sudah menjadi rahasia umum bahwa IPK sering dipandang sebatas syarat administratif selayaknya “kunci masuk” untuk berkarier di dunia kerja. Persyaratan hampir seluruh korporat besar untuk mematok minimal IPK 3.00 juga memakan korban salah seorang teman saya yang lulus dengan IPK di kisaran 2 koma. Sedikit lalai dengan tindakannya, kini ia cukup menyesali sifat abainya dahulu.
Oh ya, kamu juga mungkin pernah merasakan suasana tegang saat kampus mengirim transkrip ke alamat rumah saban akhir semester? IPK bisa berubah jadi Indeks Pencair Ketegangan saat kamu dan orang tuamu tahu bahwa isi amplop mencerminkan kondisi baik dari kehidupan akademismu. Tapi, IPK juga bisa menjadiIndeks Perunyam Kondisi saat isi amplop tak seoptimis anganmu yang mengira bahwa semua akan baik-baik saja. Ibaratnya, IPK seperti angka net income di laporan keuangan bagi orang tua selaku shareholder kegiatan perkuliahanmu. Baik disanjung, buruk dipancung. #orangtuatukangjagal
Pada akhirnya, tak sedikit khalayak yang memandang bahwa IPK menjadi satu-satunya indikator tunggal bagi baik-tidaknya kualitasmu selaku mahasiswa. Kalau saya sih tak sepenuhnya setuju. Beberapa kali saya mendengar cerita tentang mahasiswa-mahasiswa dengan IPK sangat sehat di atas 3.5 namun bermasalah dengan soft skill sehingga sulit beradaptasi di korporat manapun yang ia hinggapi. Saya lebih sepakat saat mahasiswa seharusnya dipandang secara utuh dengan hard skill yang diukur via IPK dan soft skill yang dilihat dari pengalaman berorganisasi. Angkat topi setinggi-tingginya bagi kamu yang bisa meraih keduanya dengan baik.
…
IPK oh IPK. Naik turunnya engkau yang seperti roller coaster seringkali membuat kamigalau dan deg-degan. Seberapa penting IPK bagimu dan berapapun angkanya kini, semoga ia selalu dapat menjadi catatan pribadi bahwa dalam suatu waktu kamu pernah berjuang mati-matian untuk sebuah angka ukuran.
errrrr pertanyaan yang sring muncul beberapa hari masuk di semster baru -____-.
good point ! :)



