Arai, baru enam tahun ketika itu, dan Ayahnya, gemetar di samping jasad beku sang Ibu yang memeluk erat bayi merah bersimbah darah. anak-beranak itu meninggal bersamaan. lalu Arai tinggal dengan ayahnya. kepedihan belum mau menjauhi Arai. menginjak kelas 3 SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatang kara. ia kemudian dipungut keluarga kami.
Aku teringat, beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dengan menumpang truk kopra, aku dan ayahku menjemput Arai. sore itu ia sudah menunggu kami di depan tangga gubuknya. Berdiri sendirian di tengah belantara ladang tebu tak terurus.
…. kami menelusuri jalan setapak menerobos gulma yang lebih tinggi dari kami. kerasak tumpah ruah merubung jalan itu. Arai menengok ke belakang untuk melihat gubuknya terakhir kali. ekspresinya datar. lalu ia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya. ayahku berlinangan air mata. dipeluknya pundak arai erat-erat.
Ayah ibunya merupakan anak-anak tunggal dan kakek neneknya dari kedua pihak orangtua juga telah tiada. orang melayu memberi julukan Simpai Keramat untuk orang terakhir yang tersisa dari suatu klan.Aku tak dapat mengerti bagaimana anak semuda itu menanggungkan cobaan demikian berat sebagai Simpai keramat.
Arai mendekatiku lalu menghapus air mataku dengan lengan bajunya yang kumal. Melihatku pilu, kupikir Arai akan terharu tapi ia malah tersenyum dan pelan-pelan ia merogohkan tangannya ke dalam kacung kecampangnya.
“Ikal, lihatlah ini!!”, bujuknya.
Mainan itu semacam gasing yang dibuat dari potongan-potongan lidi aren dan di ujung lidi-lidi itu ditancapkan beberapa butir buah kenari tua yang dilubangi. sepintas bentuknya seperti helikopter.
… aku tergoda melihat arai memutar-mutar benda itu setengah lingkaran untuk mengambil ancang-ancang. setelah beberapa kali putaran, sebatang lidi besar yang menjadi tuas kontruksi itu melengkung lalu saat putaran terakhir dilepaskan, ajaib! lengkungan tadi melawan arah menimbulkan tendangan tenaga balik yang memelintir gasing aneh ini dengan sempurna 360 derajat, berulang-ulang.
Aku tergelak. Mata Arai bersinar-sinar.Aku tersenyum tapi tangisku tak reda karena seperti mekanika gerak balik helikopter purba ini, arai telah memutarbalikkan logika sentimental ini.
(pic)


