Sang Pemimpi : page 21

***Ikal***

Setiap tarikan napas perih menyayat-nyayat rusukku. perutku ngilu seperti teriris karena diikat dinginnya sebatang balok es. aku menggigit lenganku kuat-kuat menahan penderitaan. bau anyir ikan busuk menusuk hidungku sampai ke ulu hati. tatapan nanar bola mata mayat-mayat ikan kenangka yang terbelalak dan kelabu membuatku gugup.

Aku membayangkan sebuah kejadian janggal dan belum sempat kucerna firasatku, kejanggalan itu benar terjadi. Suara Nyonya Pho kembali menggelegar.

Berbeda dengan Arai, waktu peti melewati para pengamen ia menjetikkan jemarinya mengikuti kerincing tamborin. Dan Ia tersenyum.  aku mengerti bahwa baginya apa yang kami alami adalah sebuah petualangan yang asyik. ia melirikku yang terjepit tak berdaya, senyummnya semakin girang.

Fantastik bukan? ” pasti itu maksudnya.

Aku merasa takjub dengan kepribadian Arai. tatapanku menghujam bola matanya, lalu tembus ke dalam lubuk hatinya, ingin kulihat dunia dari dalam jiwanya. tiba-tiba aku merasa seakan berdiri dibalik pintu, pada sebuah temaram dini hari, mengamati ayahku yang sedang duduk mendengarkan siaran radio BBC. lalu lagu syahdu ” What Wonderful World: mengalir pelan. seiring alunan lagu itu dari celah-celah peti kusaksikan pasar yang kumuh menjadi memesona. Anak-anak kecil Tionghoa yang membawa kado melompat-lompat harmonis bermain tali dikelilingi gelembung-gelembung busa. Sayap-sayap kumbang berkilauan terbiasa warna-warni dedaunan maranta. Demikian indahkah hidup dilihat dari mata Arai ? Beginikah seorang pemimpi melihat dunia ?


Free counters!