Cerpen : Ajari Aku Ilmu Ikhlas

Catatan : Cerpen ini adalah lanjutan dari dua cerpen sebelumnya dalam kisah Adjie dan Arina, yaitu Jemput Aku, Bisa ? dan Kabar dari Paris yang menceritakan sisi tokoh Kak Tiara dalam kisah Adjie dan Arina dihimbau membaca terlebih dahulu keduanya . hehe. :)

**Tiara**


Paris. Kota terindah bagiku, di belahan bumi manapun.

Mungkin tidak untuk seminggu ini. Rasanya, Kota Paris sangat dingin. Sedingin salju di luar sana, sedingin danau yang membeku, sedingin hatiku saat ini.

Aku masih saja mengunci diri di kamar, bahkan enggan memenuhi ajakan janjian keluar seminggu sekali oleh teman-teman satu apartemen,sesama orang-orang penduduk tropis, untuk menikmati keindahan salju yang selalu kutunggu setiap musim dingin tiba. Tampak muka heran mereka kepadaku yang tampak lesu, padahal biasanya aku justru manusia terheboh yang memaksa mereka hingga marah sekedar untuk menemaniku menikmati salju.

Aku enggan keluar kamar bahkan sekedar untuk menyapanya. Menyapa Adjie, adikku, yang dengan mengejutkan datang ke paris untuk meminta ijin menikah mendahuluiku. Arina, nama wanita yang membuat Adjie jatuh cinta. Membuat Adjie mengunjungiku ke Paris  tak sampai 24 jam setelah pembicaraan kami di  WhatsApp.

“Kak Tiara, lamaranku diterima oleh wanita yang bersedia menjadi istriku, namanya Arina, aku minta ijin sama kakak untuk menikah duluan…”, kalimat Adjie yang seketika membuat jantungku berdetak tak beraturan. Aku tak mau dilangkahi. Titik. 

Pernikahan, hal yang sangat krusial bagiku saat ini.

Sore ini Adjie berbicara kepadaku, lagi. Hari ke 5 Adjie di Paris. Dan pendirianku belum goyah. Aku tak mau dilangkahi.

“Kak Tiara, Arina wanita yang baik, wanita yang pantas menjadi makmumku dan madrasah bagi anak-anakku kelak. Dan aku sudah siap menjadi pendamping hidupnya. Kak, Adjie mohon sama kakak, Ijinkan Adjie menikah terlebih dahulu.”, pinta Adjie. Meyodorkan argumennya yang lain untuk meluluhkan hatiku.

Kamu sungguh tak menghormatiku sebagai kakakmu,Djie. Aku kakakmu. Aku seorang wanita. Belum menikah. Dan kau tega menikah mendahuluiku,Djie ??. itu sama saja kamu menyakiti hatiku, Djie. Apa kau mengerti ketika wanita yang belum memiliki calon suami, melihat adiknya menikah terlebih dulu ?? seperti aku ini tidak laku di mata orang-orang. Sama saja kau membiarkan kakakmu ini dicela orang karena belum juga punya pendamping hidup sedangkan adiknya sudah. Apa kau tak mengerti bagaimana perasaanku nantinya, Djie ???”. Ucapku keras, mengalahkan gemetarnya jantungku.

Aku kembali ke kamar, menutup pintu keras-keras. Aku menangis sejadinya.

Sebenarnya, bukan karena Adjie adalah adikku yang menginginkan menikah terlebih dahulu. Dan bukan karena studi masterku belum selesai. Namun, aku tak mau nantinya aku menjadi wanita yang dibenci adikku sendiri. Rasa dengki yang muncul ketika melihat mereka bergandengan tangan dengan halal sedangkan sampai saat ini pun belum ada pria yang sungguh-sungguh meminangku. Aku tak mau nantinya Adjie memikirkanku, timbul rasa bersalah karena aku belum juga ada yang meminang. Aku terlalu sayang pada Adjie, juga mengasihani diriku sendiri.

Hari-hari berikutnya, aku dan Adjie masih saja dingin. Tak ada pembicaraan apapun. Adjie sepertinya mengerti. Dia adik yang baik, dia pendengar yang baik. Apalagi ketika seorang pria beberapa waktu lalu membatalkan lamarannya kepadaku. Ketika hatiku benar-benar hancur, sejak saat itu aku sulit membuka hati kepada orang lain. Serasa mati rasa. Trauma mungkin bisa dikatakan. Aku belum bisa menerima semua ini, tentang hidupku, tentang Adjie. 

 Pada suatu sore, hari ke 7 Adjie di Paris.

“Kak, masa cuti kerjaku hanya 8 hari. Aku sudah harus pulang besok pagi. Adjie, tidak akan memaksa kakak lagi. Adjie tak mau kak Tiara membenci Adjie. Mungkin Arina belum jodoh Adjie.”, kata Adjie dengan suara tenang dan tampak kegetiran di dalamnya, menatapku dalam-dalam.

Keesokan paginya, Adjie berpamitan pulang padaku. Aku tak berani mengantarnya ke airport dan semalam aku memikirkan perlakuanku kepada Adjie, memikirkan dengan sungguh-sungguh keputusanku yang juga bakal menjadi keputusan Adjie. Dia terlalu sayang pada aku,kakaknya. Kuberikan sepucuk surat padanya sebelum ia pulang untuk dibaca sesampainya di rumah.

Adjie, kak Tiara minta maaf sekali telah mempersulit keadaanmu. Sungguh, kamu tau bagaimana keadaan kakak. Dan terlalu baik kamu memahami kakak. Kakak mengerti agama begitu juga kamu. Kakak yakin Arina adalah jodohmu, kakak mendoakan Arina untukmu. Kakak tidak akan melarangmu menikahi Arina. Namun, ada satu permintaan kakak. Kakak ingin melihat kesungguhanmu pada Arina sampai nanti kakak rela kamu menikahinya duluan. Kakak butuh waktu untuk mengikhlaskan ini semua, Djie.

Kakak minta maaf sekali.

Salam sayang,

 Kak Tiara.

Free counters!